Said Aqil Tak Surut di Tengah Kontroversi 'Imam Harus NU'..??

Said Aqil Tak Surut di Tengah Kontroversi 'Imam Harus NU'..??

Senin, 28 Januari 2019, 20.15

Pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj soal imam masjid hingga pengurus kantor urusan agama (KUA) seharusnya dari NU jadi kontroversi. Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menyesalkan pernyataan tersebut.

"Imbauan terhadap Said Aqil Siroj untuk menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan umat. Pernyataan KH Said Aqil Siroj yang menyatakan bahwa imam masjid, khatib, KUA, menteri agama, harus dari NU kalau dipegang selain NU salah semua, jelas sangat kita sesalkan," ujar Anwar Abbas dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (28/1/2019).

Anwar menganggap pernyataan tersebut berasal dari Said Aqil secara pribadi. Anwar yang juga Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) yakin pernyataan tersebut bukan sikap NU.

Anwar pun meminta Said Aqil menarik ucapannya sekaligus minta maaf. Menurutnya pernyataan tersebut mengancam persatuan dan kesatuan umat.

Said Aqil sendiri tak surut di tengah kontroversi tersebut. Said Aqil menolak permintaan Anwar karena NU tak berada di bawah struktural kepengurusan MUI.

"Sekjen Majelis Ulama meminta saya mencabut ungkapan saya kemarin, bahwa kalau bukan NU salah semua. Saya NU, bukan bawahan Majelis Ulama. NU bukan bawahan majelis ulama, bukan. Nggak ada hak perintah-perintah saya," kata Said dalam sambutannya di acara Rakornas LDNU di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019).

Menurut Said, Anwar tidak mempunyai kewenangan memerintah dirinya. Dia mengaku nekat dan menegaskan tidak takut kepada siapa pun.

"Sekali lagi, kaya saya gitu lho nekat, Ketua PBNU nggak boleh takut sama siapa pun, saya tidak takut. Kecuali sama istri saya... (disambut gelak tawa), itu pun kadang-kadang," ujar Said.

Said Aqil memilih 'tak ambil pusing' bila ada yang marah dengan pernyataannya. Said menjelaskan banyak orang yang keliru dalam menafsirkan terkait khotbah Salat Jumat. Menurut dia, khotbah seharusnya singkat dan sakral.

"Khotib sekarang bacaan Alqurannya, plentang plentong. Masyaallah. Kemarin saya katakan, khotib kalau bukan dari NU, salah semua. Pada marah, biarin," ucap Said.

Said menjelaskan apabila imam dan khatib bukan dari NU, dikhawatirkan khotbahnya akan radikal. Dia menjamin jika kader NU ceramah tak akan berisi materi yang radikal, caci maki, hingga fitnah.

"Kalau imamnya bukan dari NU, dikhawatirkan radikal khotbahnya, provokasi, mencaci maki. Itu yakin yang khotbah begitu itu bukan NU itu, saya jamin. Yang khotbah seperti itu bukan NU. Khotbah NU tidak ada. Seperti Sunda Kelapa, Masjid Istiqlal, nggak ada itu karena dipegang oleh orang NU," kata Said.

Pernyataan yang jadi kontroversi itu disampaikan Said saat berbicara di peringatan Hari Lahir ke-73 Muslimat NU di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Minggu (27/1) kemarin. Said ingin kader NU berperan di segala bidang.

"Agar berperan di tengah-tengah masyarakat. Peran apa? Peran syuhudan diniyan, peran agama. Harus kita pegang. Imam masjid, khatib-khatib, KUA-KUA, Pak Menteri Agama, harus dari NU. Kalau dipegang selain NU, salah semua," ujar Said Aqil disambut tepuk tangan anggota Muslimat NU yang hadir.

Said mengatakan selama ini kader NU memang telah berperan banyak di tengah masyarakat. Namun ada satu peran yang belum dilakukan, yakni syuhudan syiayah atau peran politik.

Kuliah Beasiswa..?? Klik Disini

Gambar : Detik News.Com
Sumber : Detik News.Com

TerPopuler